Book Review - Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu

19 December 2025 Oleh mzakyrakhmat Dilihat 240 kali

Open Library Book Review

                         

Judul: Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu

Penulis: Sasti Gotama

Subject: INDONESIAN FICTION

Publisher: Mizan, 2025 

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu: Sasti Gotama

Membaca Luka, Menyentuh Kemanusiaan

Membaca Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu terasa seperti menatap cermin yang retak: setiap pecahan memantulkan wajah manusia dengan segala luka dan absurditasnya. Sasti Gotama tidak menulis untuk menghibur semata, melainkan untuk mengajak kita merenung tentang apa artinya menjadi manusia. Dua puluh cerpen di dalamnya adalah potongan kehidupan yang getir, penuh pertanyaan, dan kadang menyakitkan.

Gambaran Singkat

Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang memenangkan penghargaan Kusala Sastra 2025. Cerita-cerita di dalamnya berangkat dari situasi ekstrem: membunuh gajah kesayangan, menghadapi pelaku kekerasan seksual yang kebal hukum, mencintai orang yang terus melukai, hingga menyaksikan ibu mencabuti sayap kupu-kupuGoodreads. Setiap kisah bukan sekadar narasi, melainkan eksperimen moral yang membuat pembaca mempertanyakan ulang batas-batas empati dan keadilan.

Kekuatan yang Tersembunyi di Balik Kerapuhan

Yang paling mengena adalah bagaimana Gotama menolak memberi jawaban pasti. Ia menulis dengan nada getir, seakan berkata: hidup bukan tentang mengurangi rasa sakit, melainkan tentang berani menatapnya. Cerpen-cerpen ini tidak menawarkan pelarian, tetapi menghadirkan ruang untuk mengakui bahwa luka adalah bagian dari eksistensi.

Resonansi Pribadi

Sebagai pembaca, saya merasa Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu adalah buku yang tidak hanya dibaca dengan kepala, tetapi juga dengan dada. Ada saat-saat saya berhenti membaca hanya untuk merenung, karena ceritanya terasa seperti percakapan jujur tentang sisi gelap manusia. Kalimat pembuka di salah satu cerpen, “Hidup terkadang hanya upaya mempersedikit kesakitan,” menjadi semacam mantra yang terus bergema.

Nilai Lebih dan Relevansi

Buku ini menawarkan keseimbangan antara estetika sastra dan refleksi sosial. Gotama mengangkat suara-suara liyan – mereka yang terpinggirkan, terutama perempuan – dan menempatkannya di pusat panggung. Di era ketika banyak cerita berusaha menyenangkan pembaca, kumpulan cerpen ini justru mengajak kita untuk berani tidak nyaman.

Sederhana, Namun Menggugah

Bahasa Gotama bersih dari pretensi akademis. Ia menulis dengan gaya yang lugas, kadang puitis, kadang brutal, tetapi selalu jujur. Gaya narasinya mengalir, dengan keseimbangan antara pengalaman manusia, kritik sosial, dan empati yang tajam.

Penutup Reflektif

Setelah menutup halaman terakhir, pertanyaan yang tertinggal bukanlah “Apakah saya sudah memahami manusia?”, melainkan:

“Sejauh mana saya berani menatap sisi gelap kemanusiaan tanpa berpaling?”

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu bukan buku tentang mencari jawaban, tetapi tentang keberanian untuk terus bertanya.

Rekomendasi

Buku ini cocok bagi siapa pun yang ingin membaca sastra yang mengguncang, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengusik. Bacaan yang tidak hanya memperkaya pikiran, tetapi juga menantang hati.

Informasi lengkap mengenai buku ini, silahkan akses Halaman ini

Peresensi : Obi Zakaria 

Informasi Lainnya