Book Review - Nyi Sadikem: Sebuah Novel

23 April 2026 Oleh mzakyrakhmat Dilihat 253 kali


 

Nyi Sadikem: Sebuah Novel

Penulis: Artie Ahmad

Subject: Fiksi

Publisher: Marjin Kiri, 2025

Nyi Sadikem: Tubuh Perempuan, Bunuh Diri Kelas, dan Suara Bisu dari Bilik Gowok
Melalui Nyi Sadikem, Artie Ahmad tidak sekadar menulis ulang sejarah lokal, melainkan merebut kembali narasi tubuh perempuan yang selama berabad-abad dibungkam oleh teks-teks patriarki dan kolonial. Novel ini adalah sebuah gugatan puitis sekaligus elegi tentang perempuan ras campuran (Indo-Belanda) yang menolak tunduk pada takdirnya sebagai sekadar objek pajangan. Artie membawa kita menyusuri lorong gelap pergundikan dan tradisi pergowokan di tanah Jawa, bukan dengan tatapan eksotis seorang penonton, melainkan melalui denyut nadi seorang penyintas yang berjuang memungut harga dirinya dari puing-puing penindasan zaman.

Alur Cerita

Kisah bermula dari sosok Elizabeth van Kirk, seorang anak perempuan jelita bak boneka porselen (pop) yang lahir dari rahim gundik pribumi dan ayah seorang Belanda. Posisinya di struktur sosial Hindia Belanda teramat liminal—tidak diakui setara oleh tatanan rasial Eropa, namun juga terasing dari akar pribuminya. Rangkaian kekejaman, pengkhianatan, dan kejamnya sistem pergundikan memaksanya melarikan diri, menanggalkan sepenuhnya identitas kebelandaannya. Di titik nadirnya, ia diselamatkan oleh seorang dukun beranak, Mak Miat, yang kemudian memberinya nama "Moerni".

Takdir, bagaimanapun, membawanya pada persimpangan yang tak kalah pelik. Melalui campur tangan Ndara Poerboningrat, Moerni bertransformasi menjadi Nyi Sadikem, seorang gowok—perempuan yang ditugaskan membimbing dan "mendewasakan" para perjaka muda dalam urusan rumah tangga hingga ranjang sebelum mereka menikah. Namun, di dalam ruang-ruang privat yang sarat akan dominasi laki-laki itu, Nyi Sadikem memutarbalikkan posisinya. Ia menolak ditelan tradisi mekanis. Ia menggunakan otoritasnya sebagai guru (dwija) untuk bertahan hidup secara mandiri dan diam-diam melindungi gadis-gadis di desanya dari rantai perdagangan perempuan.

Tanda dan Interteks

Pergantian tiga nama di sepanjang hidupnya—Elizabeth, Moerni, hingga Nyi Sadikem—bukanlah sekadar penanda babak kehidupan, melainkan sebuah simbol "bunuh diri kelas" dan upaya dekolonisasi diri yang radikal. Nama Eropanya adalah simbol objektivikasi; di mata kolonial, ia hanya properti. Namun, dengan memilih menjadi seorang gowok berwibawa, ia menanggalkan privilese kulit putihnya demi sebuah otonomi batin.

Berbeda dengan narasi gowok arus utama (seperti karya-karya lampau yang kerap melukiskan profesi ini semata-mata dari lensa sensualitas laki-laki), Artie Ahmad menghadirkan Nyi Sadikem sebagai subjek yang otonom. Bilik gowok, yang secara historis dibaca sebagai ruang subordinasi, disulap menjadi ruang kemerdekaan, agensi, dan perlawanan bagi tokoh utamanya.

Narasi Besar dan Tafsir Kehidupan

Buku ini melempar kita pada sebuah pertanyaan esensial: Di tengah himpitan feodalisme dan keangkuhan kolonialisme, adakah ruang bagi seorang perempuan untuk memiliki tubuhnya sendiri? Nyi Sadikem menyingkap realitas yang menyayat hati tentang bagaimana tubuh perempuan kerap dijadikan medan perang lintas ras dan komoditas transaksi para tuan tanah.

Meski bertumpu pada satu tokoh utama, cerita ini menggema sebagai himne bagi para gundik, nyai, dan gowok yang sejarah aslinya kerap dihapus atau disalahartikan. Artie menolak memberikan akhir cerita layaknya dongeng romantis pemuas dahaga pembaca. Pilihan teguh Nyi Sadikem di akhir kisah untuk tidak menjatuhkan hati pada pria mana pun adalah sebuah manifestasi keteguhan bahwa menjadi perempuan merdeka tidak berarti harus bersandar pada pelindung bernama suami, melainkan berani menelan sepi demi merengkuh kedaulatan atas dirinya sendiri.

Catatan Akhir

Nyi Sadikem adalah karya sastra realis-sejarah yang menampar sekaligus memeluk pembacanya. Ia mengajak kita mengaji lembar-lembar sejarah Nusantara bukan dari mimbar penguasa, melainkan dari bilik bambu seorang perempuan yang menolak dikalahkan zaman. Di balik nama yang berganti dan luka masa lalu yang dipendam, selalu ada martabat kemanusiaan yang meronta dan menolak untuk padam. Buku dapat diakses melalui.Halaman ini

Peresensi : Obi Zakaria