Kamar Berantakan, Pikiran Ikutan Berantakan? Ini Alasannya!

30 Sep 2026 Mbkm_Literasi Dilihat 241 kali



Pernah merasa kesal ketika melihat kamar yang berantakan? Ternyata, rasa tidak nyaman itu bukan sekadar soal kamar yang terlihat kurang rapi. Lingkungan tempat kita tinggal dapat berkaitan dengan bagaimana kita merasakan stres dan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.

Rumah seharusnya menjadi tempat untuk beristirahat setelah menjalani berbagai aktivitas. Namun, ketika ruangan dipenuhi barang yang berserakan, pekerjaan rumah yang belum selesai, atau berbagai hal yang terus mengingatkan kita pada tugas yang tertunda, rumah justru bisa terasa kurang menenangkan.

Sebuah penelitian oleh Darby E. Saxbe dan Rena Repetti yang berjudul No Place Like Home: Home Tours Correlate With Daily Patterns of Mood and Cortisol mengamati bagaimana cara seseorang menggambarkan rumahnya berkaitan dengan suasana hati dan respons stres tubuh kita sendiri.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis kata-kata yang digunakan peserta ketika menggambarkan rumah mereka. Mereka melihat beberapa hal, seperti kekacauan atau barang yang berantakan, pekerjaan rumah yang belum selesai, suasana rumah yang tenang dan adanya tanaman atau halaman yang dapat membuat lingkungan terasa lebih sejuk dan nyaman. Hal ini dapat membantu seseorang merasa lebih rileks dan tenang saat berada di rumah.

Dari sini, peneliti membedakan dua gambaran lingkungan rumah yaitu rumah yang menimbulkan stres dan rumah yang bersifat memulihkan atau menenangkan. Rumah yang banyak digambarkan dengan kondisi berantakan dan berbagai pekerjaan yang belum selesai berkaitan dengan pola respons stres yang kurang baik pada perempuan dalam penelitian tersebut. Sebaliknya, rumah yang lebih banyak digambarkan sebagai tempat yang tenang dan memiliki unsur alam berkaitan dengan pola yang lebih memulihkan.

Mengapa merapikan kamar bisa terasa melegakan?

Ketika  melihat barang berserakan di berbagai sudut dan tempat, pakaian yang belum dibereskan, atau meja yang penuh benda, kita tidak hanya melihat benda-benda tersebut. Secara tidak langsung, lingkungan itu juga dapat menjadi pengingat mengenai berbagai hal yang belum selesai.

Sebaliknya, ruangan yang lebih tertata rapi dapat memberikan kesan lebih teratur dan nyaman. Kita menjadi lebih mudah menemukan barang, memiliki ruang untuk beraktivitas, dan membuat seseorang merasa lebih aman dan nyaman dengan lingkungan di sekitarnya.

Itulah mengapa aktivitas sederhana seperti merapikan tempat tidur, mengembalikan pakaian ke tempatnya, atau membersihkan meja belajar terkadang memberikan rasa lega. Bukan berarti kamar harus selalu sempurna, tetapi tujuan utama nya adalah menciptakan ruang yang terasa nyaman untuk ditempati.

Rumah juga bisa menjadi tempat untuk "mengisi ulang energi"

Selain kondisi yang rapi, penelitian tersebut juga menemukan bahwa gambaran rumah yang memiliki karakteristik menenangkan dan unsur alam berkaitan dengan pola yang lebih memulihkan.

Hal sederhana seperti memiliki tanaman di kamar, membuka jendela agar mendapat udara dan cahaya alami, atau menyediakan sudut kecil untuk membaca dan beristirahat dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman atau istilah Gen Z nya yaitu Homey. Rumah tidak harus besar, mewah, mahal, atau memiliki dekorasi yang aesthetic untuk terasa menyenangkan karena perubahan kecil terkadang sudah cukup.

Jika kamar sedang sangat berantakan, jangan merasa harus langsung membersihkan seluruh ruangan.

Mulailah dari bagian kecil, seperti :

  1. Merapikan tempat tidur.
  2. Singkirkan barang yang sudah tidak digunakan.
  3. Kosongkan meja.
  4. Kembalikan barang ke tempatnya.
  5. Buka jendela dan biarkan ruangan mendapatkan udara segar dan cahaya matahari.

Perubahan kecil pada lingkungan sekitar dapat membuat ruangan terasa berbeda. Dan ketika lingkungan terasa lebih nyaman, waktu yang kita habiskan di dalamnya pun bisa terasa lebih menyenangkan. Pada akhirnya, rumah bukan hanya tentang tempat tinggal. Rumah adalah tempat kita kembali setelah menjalani berbagai kesibukan. Oleh karena itu, kondisi rumah dapat menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari kita.

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara bagaimana seseorang menggambarkan rumahnya dengan suasana hati serta pola kortisol harian, khususnya pada perempuan. Jadi, jika hari ini kamu merasa pikiran sedang penuh, mungkin tidak ada salahnya memulai dari sesuatu yang sederhana seperti merapihkan kamarmu sendiri.

Bukan karena kamar yang berantakan berarti kamu sedang tidak baik-baik saja, tetapi karena menciptakan ruang yang lebih nyaman bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk membuat waktu di rumah terasa lebih berharga.

 

Referensi

Saxbe, D. E., & Repetti, R. L. (2010). No Place Like Home: Home Tours Correlate With Daily Patterns of Mood and Cortisol. Personality and Social Psychology Bulletin, 36(1), 71–81.

Penulis : Hilyatul Auliya |Editor: Irma Sari | Gambar : Pexels

Aksesibilitas
Bantuan