Perkebunan kelapa sawit menghadapi tantangan dalam pemantauan kualitas kesuburan tanah pada area yang luas dan tersebar. Permasalahan utama adalah bagaimana memantau kondisi tanah di berbagai titik secara berkelanjutan, merancang sistem dengan sumber daya mandiri agar tetap beroperasi di tengah kebun, serta memastikan data dapat tersimpan dan diakses dari mana saja. Selain itu, posisi setiap node sensor juga perlu diketahui agar memudahkan pemetaan dan analisis kondisi lahan.
Penelitian ini merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring kualitas tanah berbasis Wireless Sensor Network (WSN) yang terhubung dengan konsep Internet of Things (IoT). Sistem terdiri dari beberapa node pengirim dengan sensor NPK, pH, suhu, dan kelembapan tanah yang mengirimkan data melalui komunikasi jarak jauh (LoRa) ke node penerima, kemudian diteruskan ke server melalui internet. Untuk keberlanjutan daya, digunakan panel surya dan baterai yang dikendalikan MOSFET agar modul hanya aktif sesuai jadwal pengukuran, sehingga konsumsi energi lebih efisien. Data yang terkumpul tersimpan dalam database dan divisualisasikan pada dashboard dalam bentuk grafik harian, mingguan, hingga tahunan. Setiap node dilengkapi GPS untuk mencatat lokasi, sehingga sebaran sensor dapat dipantau dan berpotensi dikombinasikan dengan algoritma pemetaan guna meningkatkan akurasi posisi.
Hasil pengujian menunjukkan sistem mampu beroperasi 24 jam dengan dukungan panel surya dan baterai, meskipun perangkat hanya aktif sekitar 10 menit per hari untuk melakukan pengukuran. Data berhasil tersimpan di internet, divisualisasikan dalam bentuk grafik, serta lokasi tiap node tercatat dengan baik. Dengan demikian, sistem berbasis WSN ini dapat menjadi solusi efektif untuk pemantauan kualitas tanah jarak jauh secara berkelanjutan di perkebunan sawit.
Kata kunci: Wireless Sensor Network, IoT, monitoring tanah, panel surya, LoRa, GPS