Penelitian ini berfokus pada strategi komunikasi pemberdayaan penyandang disabilitas dalam membangun ruang inklusi melalui studi kasus Café More Wyata Guna di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemberdayaan disabilitas dalam membangun ruang inklusi studi kasus pada café more wyata guna di kota bandung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Communication for Empowerment oleh Melkote dan Steeves (2015) dengan tiga dimensi utama, yaitu personal empowerment, relational empowerment, dan collective empowerment. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus Creswell dan Poth (2018). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan forum group discussion (FGD), observasi non-partisipatif, dan dokumentasi di Café More Wyata Guna. Wawancara dilakukan dengan informan kunci yaitu pengelola dan pengawas café, informan pendukung barista café, dan informan pendukung pelanggan yang datang ke café. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemberdayaan di Café More mampu meningkatkan kepercayaan diri pekerja disabilitas (personal empowerment), membangun relasi sosial yang setara antara pekerja dan pelanggan (relational empowerment), serta menumbuhkan solidaritas dan kesadaran kolektif dalam memperjuangkan nilai-nilai inklusi (collective empowerment). Komunikasi empatik, partisipatif, dan dialogis terbukti menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas dari objek belas kasihan menjadi individu profesional yang setara.