Penelitian ini mengkaji rendahnya kesadaran merek dan lemahnya identitas visual produk kerajinan bambu di Desa Muaradua, Kabupaten Sukabumi, akibat promosi yang terfragmentasi dan belum adanya sistem branding yang terintegrasi. Penelitian bertujuan merumuskan strategi komunikasi visual berbasis kearifan lokal untuk memperkuat identitas dan efektivitas promosi produk. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, FGD, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara tematik, didukung analisis SWOT serta model STP (Segmentasi, Targeting, Positioning) untuk merumuskan arah strategis pengembangan branding visual. Hasil penelitian menunjukkan tujuh kendala utama, meliputi keterbatasan bahan baku, teknologi produksi tradisional, lemahnya dukungan kelembagaan, rendahnya inovasi desain, serta ketiadaan identitas visual dan strategi digital yang konsisten. Produk belum memiliki ciri khas visual sehingga sulit dikenali pasar. Solusi yang dirumuskan mencakup penyusunan Visual Brand Guidelines, pembentukan kelembagaan kolektif, dan pemanfaatan media digital secara terstruktur. Penguatan daya saing produk bambu memerlukan strategi komunikasi visual terpadu yang mengintegrasikan perbaikan hulu–hilir dengan penguatan branding berbasis kearifan lokal. Penelitian ini memberikan model strategis bagi pengembangan ekonomi kreatif pedesaan dan praktik sustainable cultural branding.
Kata Kunci: Komunikasi Visual, Kearifan Lokal, Kerajinan Bambu, Ekonomi Kreatif Desa, Visual Brand Guidelines