Masalah lingkungan yang terjadi di Kota Bandung yaitu sampah yang terus bertambah. Salah satunya sampah styrofoam yang mencapai 27 ton setiap bulannya. Terkait hal tersebut pemerintah mengeluarkan peraturan larangan penggunaan styrofoam untuk mengurangi jumlah sampah styrofoam di Kota Bandung. Hal tersebut menunjukkan rendahnya pengendalian diri dan kesadaran akan lingkungan, maka perlu dilakukan penelitian tentang self monitoring, consumer guilt dan perceived consumer effectiveness. Penelitian ini tentang rasa bersalah konsumen, kontrol diri, keyakinan konsumen mempengaruhi niat membeli produk hijau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah consumer guilt, self monitoring, perceived consumer effectiveness berpengaruh terhadap green purchase intention. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk melihat hubungan antar variabel, dengan bantuan software SmartPLS 2.0. Populasi pada penelitian ini adalah warga Kota Bandung yang mengetahui larangan penggunaan styrofoam dengan sample sebesar 400 responden. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan menggunakan non-probability sampling dengan teknik purposive sampling.
Berdasarkan hasil pengolahan data, didapatkan hasil consumer guilt memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap green purchase intention. Dan perceived consumer effectiveness mempunyai pengaruh terbesar terhadap green purchase intention.
Berdasarkan hasil penelitian, maka untuk meningkatkan green purchase intention, pemerintah disarankan mengadakan program pro-lingkungan dapat berupa sosialisasi tentang dampak dari penggunaan styrofoam dan mempromosikan produk pengganti styrofoam