Realita peralihan preferensi belanja tradisional ke belanja online berdampak terhadap demand pelanggan. Setelah memperluas pasarnya melalui media e-commerce, CV. XYZ mendapatkan permintaan pasokan dari beragam mitra baru dan menyebabkan perubahan permintaan yang mulanya stabil mengalami lonjakan signifikan. Dalam menanggapi peningkatan, perusahaan belum melakukan pemenuhan dengan maksimal, tercermin dalam rata-rata permintaan konsumen yang tidak berhasil dipenuhi dalam enam bulan adalah 5% sedangkan batas maksimum persentase tidak terpenuhi untuk menghindari kerugian perusahaan adalah 2%, hal tersebut disebabkan oleh perencanaan pengadaan yang kurang optimal. Untuk mengatasi masalah dirancang sistem seleksi supplier dan alokasi order untuk membantu manajemen dalam mrencanakan pengadaan dengan optimal, metode yang digunakan adalah AHP dalam menentukan bobot kepentingan, SAW dalam mengevaluasi kinerja supplier, dan MOLP dalam mengalokasikan order untuk memperkirakan kombinasi supplier yang dapat meminimasi persentase permintaan tidak terpenuhi. Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa perencanaan sistem dapat menghasilkan kombinasi alokasi dengan persentase permintaan tidak terpenuhi sebesar 1.56%, lebih baik dari keadaan eksisting dan dapat memenuhi target.