Fenomena ayah tunggal yang mengalami cerai mati memiliki tantangan tersendiri dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua terlebih dalam mengurus anak remaja perempuan yang dalam hal ini masa remaja merupakan masa peralihan menuju dewasa sehingga dibutuhkan komunikasi kasih sayang dalam keluarga. Peneliti memfokuskan pada keluarga ayah tunggal dan anak remaja perempuan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan paradigma naturalistik. Data yang diperoleh pada penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dari keenam informan kunci yaitu ayah tunggal dan anak remaja perempuan, dua informan pendukung, serta satu orang informan ahli. Pada penelitian ini, peneliti menemukan hasil bahwa komunikasi keluarga mempengaruhi bentuk pesan yang dihasilkan sebagai wujud dari pertukaran kasih sayang dapat berupa komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal dalam kaitannya dengan pertukaran kasih sayang dan pola pengasuhan ayah tunggal. Selain itu, ayah tunggal yang melakukan komunikasi kasih sayang dengan anak memiliki tingkat stres dan penghindaran konflik yang lebih rendah daripada ayah tunggal yang tidak melakukan komunikasi kasih sayang dengan anak. Oleh karena itu, komunikasi kasih sayang berkontribusi dalam keluarga karena dapat meminimalisir konflik yang mungkin terjadi antara ayah tunggal dan anak remaja perempuan.
Kata Kunci: Pertukaran Kasih Sayang, Komunikasi Keluarga, Ayah Tunggal, Remaja Perempuan
?