Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi dan jaringan sosial yang menyertai jurnalisme digital terkait konflik Palestina-Israel. Dengan menggunakan SNA dan analisis pola naratif, penelitian ini mencoba menemukan bagaimana media sosial telah menjadi situs besar bagi produksi opini publik atas konflik yang dimaksud. Temuan ini menyoroti komunikasi media sosial yang terpolarisasi antara kelompok pro-Palestina dan pro-Israel, sementara aktor netral berperan sebagai semacam jembatan yang berusaha menjaga keseimbangan informasi. Selain itu, dalam analisis pola naratif, lima topik utama mendominasi percakapan: konflik fisik dan dampaknya; tanggapan keagamaan dan solidaritas global; konteks internasional dan hak asasi manusia; liputan media dan fokus lokasi; politik dan dimensi regional. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun media sosial merupakan sarana yang bagus untuk menyebarkan informasi dengan cepat, terdapat banyak kelemahan dalam hal bias dan misinformasi yang dapat dianggap sebagai masukan faktual dalam memengaruhi kebijakan internasional dalam memperkuat gerakan sosial. Makalah ini menyoroti perlunya menyadari kekuatan pola naratif dalam komunikasi digital dan perlunya penggunaan media sosial yang lebih kritis dan etis sebagai alat komunikasi.