Penelitian ini bertujuan mengsimulasikan efektivitas strategi investasi Dollar Cost Averaging (DCA) dibandingkan dengan lump sum dan Augmented Dollar Cost Averaging (ADCA) di pasar saham Indonesia. Inputnya adalah perbandingan kinerja investasi menggunakan data historis saham, dan outputnya adalah rekomendasi strategi yang sesuai. Investor sering bingung memilih strategi yang tepat di pasar saham yang dinamis. Penelitian sebelumnya terbatas pada analisis historis, kurang mengeksplorasi berbagai skenario pasar. Kesenjangan pengetahuan mengenai kinerja DCA, lump sum, dan ADCA dalam berbagai kondisi pasar di Indonesia menjadi motivasi penelitian ini. Perbedaan pergerakan harga saham dan kondisi pasar yang bervariasi membutuhkan pendekatan investasi yang adaptif. Penelitian ini menggunakan data historis saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mensimulasikan tiga kondisi pasar: tren naik (BBRI), stagnan (BBTN), dan tren menurun (SCMA), serta pada 33 saham dalam indeks LQ45. Evaluasi dilakukan melalui analisis statistik deskriptif dan perbandingan kinerja (mean return, standar deviasi, Sharpe ratio). ADCA disesuaikan dengan data inflasi bulanan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa lump sum cenderung memberikan return tertinggi pada pasar dengan tren naik, tetapi dengan risiko lebih tinggi. DCA dan ADCA memberikan kinerja lebih stabil dengan risiko terkontrol, namun potensi return lebih rendah. Penyesuaian inflasi dalam ADCA tidak memberikan keunggulan signifikan dibanding DCA. Dalam pasar stagnan atau menurun, tidak ada strategi yang optimal, dengan semua strategi menunjukkan Sharpe ratio. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan pemahaman mengenai perbandingan strategi investasi dalam berbagai kondisi pasar di Indonesia.