Pemanfaatan teknologi informasi, seperti konsep e-government dan smart village sebagai pengembangan dari smart city, merupakan langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kualitas pelayanan publik. Konsep smart village menekankan enam pilar utama, salah satunya tata kelola pemerintahan cerdas (Smart Governance), yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini berfokus pada perancangan enterprise architecture dengan konsep smart village melalui dimensi tata kelola pemerintahan cerdas di Desa Sindangpanon, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meskipun demikian, Desa Sindangpanon menghadapi tantangan berupa rendahnya keterbukaan data, infrastruktur yang belum optimal, administrasi yang manual, serta keterbatasan layanan online. Untuk mengatasi hal tersebut, digunakan framework TOGAF 10 dalam perancangan enterprise architecture, dengan fokus pada fase preliminary phase, architecture vision, business architecture, information system architecture, technology architecture, opportunities and solution, serta migration planning. Penelitian ini bertujuan untuk merancang blueprint enterprise architecture dengan konsep smart village menggunakan smart governance yang dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kualitas pelayanan publik di Desa Sindangpanon. Blueprint ini diharapkan mampu mendukung pengelolaan desa berbasis teknologi secara berkelanjutan, meningkatkan pelayanan administrasi, serta memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.
Kata kunci—Smart Village, Smart Governanace, Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, Enterprise Arctitecture, TOGAF 10