Perusahaan Pengembang Perangkat Lunak Agile (PPA) seperti startup, software house atau IT konsultan saat ini banyak yang mengadopsi metode scrum untuk meningkatkan kecepatan pengembangan produk. Metode ini menawarkan pendekatannya yang praktis dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang sering terjadi dalam proyek perangkat lunak. Namun peneran metode ini menghadapi permasalahan besar dalam pengelolaan pengetahuan tacit dan eksplisit karena iterasi sprint dan rotasi tim yang cepat serta menerapkan prinsip minim dokumentasi. Hal ini menyebabkan aset pengetahuan tidak dikelola dengan baik yang mana aset pengetahuan seharusnya merupakan bagian penting dari human capital yang menjadi inti bisnis dari perusahan PPA. Permasalahan pengelolaan pengetahuan di perusahaan PPA semakin komplek karena adanya turnover tinggi akibat PHK masal di startup dan talent-war di software house dan IT konsultan. Buruknya pengelolaan pengetahuan organisasi dan turnover tinggi dapat mengancam keberlangsungan proyek dan produk yang dikembangkan perusahaan PPA, yang ketika tidak dikelola dengan baik dapat berakibat pada keberlangsungan bisnis perusahaan di masa mendatang. Penelitian ini berupaya untuk merancang framework knowledge management untuk memandu menyelaraskan strategi tata kelola manajemen pengetahuan dengan tujuan organisasi dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti dukungan manajemen, struktur organisasi, pengorganisasian aset pengetahuan, budaya organisasi, dukungan teknologi dan knowledge continuity. Dari hasil analisis data wawancara dari para profesional scrum di tiga perusahaan PAA dan studi literatur pada beberapa framework yang relevan, penelitian ini berhasil mengembangkan framework KM yang dapat dijadikan panduan dalam penyusunan roadmap tata kelola perbaikan knowledge management bagi perusahaan PAA.